Festival Religi dan Kemerdekaan MI Nurul Islam Kota Lumajang: Merawat Tradisi Nusantara, Meneguhkan Identitas Bangsa

Lumajang, 12 Agustus 2026 — Semarak memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Rebo Wekasan, dan Maulid Nabi Muhammad SAW dikemas secara apik oleh MI Nurul Islam Kota Lumajang dalam sebuah kegiatan bertajuk “Festival Religi dan Kemerdekaan”. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2026 tersebut dipusatkan di Masjid Attaqwa dan lingkungan MI Nurul Islam Kota Lumajang.

Festival ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal, menghayati, sekaligus merawat tradisi keagamaan dan budaya Nusantara yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satu rangkaian kegiatan adalah peringatan Rebo Wekasan melalui kegiatan Fikir Rebo Wekasan serta makan Jenang Sabar bersama-sama.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter dan penguatan kecintaan terhadap tradisi Aswaja NU. Tradisi yang telah dipertahankan sejak dahulu oleh para ulama salafus shalihin tersebut dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

Dalam sambutannya, Kepala MI Nurul Islam Kota Lumajang, Ustadz Adnan Kahirullah, S.Pd.I., menegaskan pentingnya membentuk generasi yang memiliki wawasan luas, hati yang dekat dengan nilai-nilai keagamaan, sekaligus tetap berakar pada budaya Nusantara.

“Murid MI Nurul Islam Kota Lumajang wajib memiliki tiga hal. Pertama, otak London; kedua, hati Masjidil Haram; dan ketiga, tradisi Nusantara,” ungkapnya.

Menurutnya, “otak London” merupakan simbol keluasan wawasan dan kemajuan berpikir, sementara “hati Masjidil Haram” menggambarkan hati yang kokoh dalam nilai-nilai keislaman. Adapun tradisi Nusantara menjadi identitas yang harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga budaya dan akhlak di tengah masyarakat. “Selama di gang-gang, di jalan-jalan kecil, masih ada anak yang membungkukkan badan ketika bertemu orang yang lebih tua, selama masih ada anak yang nun sewu, maka Indonesia akan tetap terjaga,” tuturnya.

Lebih dari sekadar mengenalkan tradisi, Festival Religi dan Kemerdekaan diharapkan mampu menanamkan kesadaran bahwa menjaga tradisi berarti menjaga identitas bangsa. Ketika generasi muda tetap mengenal budaya, menghormati ulama, menjaga adab, dan mengamalkan nilai-nilai Aswaja NU, maka jati diri bangsa akan tetap kuat di tengah arus perubahan zaman.

Melalui festival ini, MI Nurul Islam Kota Lumajang menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Pendidikan juga hadir melalui tradisi, keteladanan, kebersamaan, dan pengalaman langsung di tengah masyarakat.

Merawat tradisi Nusantara, meneguhkan nilai keislaman, dan menumbuhkan cinta tanah air menjadi semangat Festival Religi dan Kemerdekaan MI Nurul Islam Kota Lumajang.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *